5 Tradisi Tak Tertulis di Blitar yang Menyelamatkan Lingkungan

Blitar memiliki warisan budaya yang erat kaitannya dengan pelestarian lingkungan. Tanpa disadari, warga Blitar sejak dahulu telah menerapkan berbagai tradisi yang memiliki dampak positif terhadap keseimbangan alam. 

Meski tak tertulis dalam aturan resmi, lima tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

1. Harus Ada Pohon di Sekitar Rumah, Menjaga Ekosistem dan Menarik Rezeki

Sejak dahulu, masyarakat Blitar meyakini bahwa rumah yang baik harus memiliki pohon di sekitarnya. Biasanya, pohon yang ditanam adalah rambutan, belimbing, atau mangga. 

Selain memberikan kesejukan dan buah yang bisa dikonsumsi, pohon-pohon ini juga menjadi habitat bagi berbagai burung kecil, salah satunya burung prenjak.

Burung prenjak dipercaya sebagai pertanda kedatangan tamu. Mitos ini bukan sekadar cerita turun-temurun, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. 

Dengan menanam pohon, warga secara tidak langsung menciptakan ekosistem kecil yang mendukung kehidupan burung dan serangga, sekaligus membantu menjaga kualitas udara di lingkungan sekitar.

2. Mensakralkan Pohon Dayangan, Menjaga Sumber Air

Pohon Dayangan adalah istilah untuk pohon raksasa yang tumbuh di sekitar mata air. Warga Blitar sejak dulu mensakralkan pohon-pohon ini karena dianggap sebagai tempat bersemayamnya makhluk gaib. Kepercayaan ini membuat orang segan menebang pohon sembarangan.

Namun, di balik keyakinan spiritual ini, ada dampak ekologis yang sangat penting. Pohon besar di sekitar mata air berperan dalam menjaga keseimbangan hidrologis. 

Akar pohon menahan tanah agar tidak longsor dan menyimpan cadangan air, sementara daunnya membantu menjaga kelembapan udara. 

Tanpa sadar, tradisi ini telah berkontribusi dalam menjaga kualitas air dan mencegah bencana seperti kekeringan serta erosi.

3. Sedekah Bumi, Menjaga Ketahanan Pangan

Sedekah bumi adalah tradisi yang dilakukan sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Acara ini biasanya melibatkan sesajen dan doa-doa yang dipersembahkan kepada Nyai Ratu Kidul, sehingga sering dianggap sebagai ritual yang bertentangan dengan ajaran agama tertentu.

Namun, jika dilihat dari perspektif agraria, sedekah bumi sebenarnya adalah cara untuk menjaga keberlanjutan pertanian. 

Tradisi ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa mereka harus terus menekuni profesi bertani agar dapat melakukan sedekah bumi setiap tahunnya. Dengan demikian, ketahanan pangan di komunitas tetap terjaga, dan praktik pertanian tidak ditinggalkan begitu saja di tengah arus modernisasi.

4. Membungkus Makanan dengan Daun, Mengurangi Sampah Plastik

Sebelum plastik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, masyarakat Blitar sudah terbiasa membungkus makanan dengan berbagai jenis daun, seperti daun pisang, jati, randu, atau nangka. 

Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan daun juga memberikan aroma khas pada makanan, yang sulit ditiru oleh pembungkus modern.

Daun-daun ini dapat terurai secara alami dan bahkan menjadi kompos yang menyuburkan tanah. 

Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Blitar sudah memiliki konsep zero waste jauh sebelum kampanye pengurangan sampah plastik digaungkan.

5. Alat Masak dari Gerabah: Ramah Lingkungan dan Sehat

Blitar memiliki daerah penghasil gerabah, yang menghasilkan alat-alat masak tradisional seperti kendi, anglo, dan belanga. Gerabah ini dibuat dari tanah liat yang dibakar, sehingga tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti plastik atau logam berlapis teflon yang dapat mencemari makanan.

Selain lebih ramah lingkungan, memasak dengan gerabah juga memberikan rasa yang lebih khas pada makanan, karena panasnya lebih merata dan tidak merusak kandungan alami dari bahan makanan. 

Sayangnya, penggunaan gerabah kini semakin berkurang karena banyaknya peralatan masak modern. Padahal, jika dipertahankan, tradisi ini bisa membantu mengurangi limbah plastik dan logam yang sulit didaur ulang.

Menjaga Tradisi, Menjaga Lingkungan

Lima tradisi tak tertulis ini menunjukkan bahwa kearifan lokal sebenarnya sudah sejak lama mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam. 

Meski banyak yang mulai luntur oleh modernisasi, tidak ada salahnya kita mencoba melestarikan kembali kebiasaan-kebiasaan ini. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga ikut berkontribusi dalam menyelamatkan lingkungan untuk generasi mendatang.

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini