Ramadan selalu menjadi bulan yang istimewa bagi umat Islam, termasuk di Blitar. Selain menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, bulan suci ini juga menghadirkan berbagai tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan kearifan lokal yang perlu terus dijaga. Berikut adalah tujuh tradisi Ramadan di Blitar yang patut dipertahankan.
1. Bagi Takjil di Jalanan
Bagi takjil adalah tradisi yang selalu menjadi pemandangan umum di berbagai sudut jalanan Blitar menjelang waktu berbuka puasa. Berbagai kelompok masyarakat, baik dari organisasi keagamaan, komunitas sosial, hingga individu, ikut serta dalam berbagi makanan berbuka bagi pengendara, pejalan kaki, dan masyarakat yang membutuhkan.
Takjil yang dibagikan pun beragam, mulai dari kolak pisang, es buah, hingga makanan ringan khas Blitar seperti klepon dan cenil. Tradisi ini bukan hanya bentuk sedekah, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian sosial yang tinggi di tengah masyarakat.
2. Pasar Ramadan, Meningkatkan Ekonomi Masyarakat
Pasar Ramadan selalu menjadi magnet bagi warga Blitar yang ingin berburu makanan berbuka dan kebutuhan lebaran. Biasanya, pasar ini muncul di area pasar tradisional atau titik-titik keramaian seperti Alun-Alun Blitar dan sekitar Masjid Agung.
Para pedagang musiman memanfaatkan momen ini untuk menjajakan berbagai jenis kuliner khas Ramadan, seperti sate ayam, aneka gorengan, dan minuman segar. Tidak hanya meningkatkan perekonomian masyarakat, Pasar Ramadan juga menjadi tempat berkumpulnya warga yang ingin menikmati suasana khas bulan suci.
3. Buka Puasa Bersama untuk Menjaga Silaturahmi
Buka puasa bersama sudah menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan oleh masyarakat Blitar. Acara ini biasanya diadakan oleh keluarga besar, komunitas, alumni sekolah, hingga rekan kerja.
Selain sebagai ajang menikmati hidangan berbuka, buka puasa bersama menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin renggang akibat kesibukan sehari-hari. Momen ini juga sering dimanfaatkan untuk bernostalgia, berbagi cerita, dan memperkuat rasa persaudaraan.
4. Rutin Tarawih, Meskipun Ikut Versi Cepat
Salat tarawih menjadi ibadah yang khas di bulan Ramadan. Di Blitar, banyak masjid dan mushola yang menggelar tarawih dengan berbagai pilihan rakaat dan durasi. Ada yang menjalankan versi standar dengan bacaan yang lebih panjang, tetapi ada juga yang memilih versi cepat agar jamaah tidak terlalu lelah.
Meskipun ada perbedaan cara, semangat untuk melaksanakan tarawih tetap tinggi. Masjid-masjid besar seperti Masjid Agung Blitar dan Masjid Kauman selalu dipenuhi jamaah yang ingin menjalankan ibadah ini secara berjamaah.
5. Membangunkan Sahur dengan Alat Musik Tradisional
Di beberapa kampung di Blitar, tradisi membangunkan sahur masih dilestarikan. Jika di daerah lain menggunakan bedug atau kentongan, di Blitar beberapa kelompok masyarakat menggunakan alat musik tradisional dari kayu seperti kentongan, lesung, atau alat perkusi sederhana yang menghasilkan suara khas.
Para pemuda biasanya berkeliling kampung sambil membunyikan alat-alat ini dengan ritme tertentu, sering kali diiringi dengan lantunan shalawat atau yel-yel penyemangat. Tradisi ini bukan hanya membantu warga untuk bangun sahur, tetapi juga mempererat kebersamaan di antara mereka yang melakukannya.
6. Belanja Kue Lebaran ke Tetangga dan Teman Dekat
Menjelang Idulfitri, tradisi membeli kue lebaran dari tetangga atau teman dekat masih bertahan di Blitar. Banyak ibu rumah tangga yang memanfaatkan Ramadan untuk berjualan kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju.
Masyarakat lebih memilih membeli dari tetangga dibandingkan toko besar, karena selain mendukung perekonomian lokal, juga sebagai bentuk kebersamaan dan kepercayaan terhadap kualitas buatan tangan. Dengan begitu, ekonomi antar warga bisa terus berkembang secara berkelanjutan.
7. Memperbanyak Kajian Agama di Masjid dan Mushola
Bulan Ramadan juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan pemahaman agama. Di Blitar, berbagai masjid dan mushola mengadakan kajian keislaman yang lebih intensif dibanding bulan-bulan lainnya.
Kajian ini biasanya diadakan setelah salat subuh, menjelang berbuka puasa, atau setelah tarawih. Para ustaz dan kyai dari berbagai daerah diundang untuk menyampaikan ceramah tentang keutamaan Ramadan, tafsir Al-Qur’an, hingga pembahasan fiqih yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi generasi muda, momen ini menjadi kesempatan untuk mendalami ilmu agama dan meningkatkan kualitas ibadah mereka selama bulan suci.
Menjaga Tradisi, Memperkuat Kebersamaan
Tradisi-tradisi Ramadan di Blitar bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Dengan terus menjaga dan melestarikan tradisi ini, kita tidak hanya mempertahankan budaya lokal, tetapi juga mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan di tengah masyarakat.
Semoga Ramadan tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh warga Blitar dan tradisi-tradisi ini tetap lestari untuk generasi yang akan datang.
0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini